Friday, 24 December 2010

Bahasa Arab, sebagaimana bahasa-bahasa lain, dalam mengungkapkan kata-kata tertentu seringkali menggunakan kata ganti (dhamir). Dhamir tersebut berfungsi untuk menghindari pemborosan kata-kata (lil-ikhtisar). Mempersingkat perkataan; ia berfungsi untuk menggantikan penyebutan kata-kata yang banyak dan menempati kata-kata itu secara sempurna, tanpa merubah makna yang dimaksud dan tanpa pengulangan. Sebagai contoh, dhamir " هم "   (hum) pada ayat :

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Ayat tersebut di atas (tepatnya pada lafadz dhamir  لَهُمْ lahum”) telah menggantikan dua puluh kata sebelumnya, jika kata-kata yang ada sebelum dhamir lahum ini  diungkapkan bukan dalam bentuk dhamir (kata ganti), maka hal itu akan membuat ayat tersebut menjadi lebih panjang yang mengakibatkan pemborosan kata kata, adapun kata-kata yang terdapat dalam permulaan ayat (sebelum lafadz lahum) tersebut antara lain:


إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmi, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Pada ayat diatas, dhamir لَهُمْ mewakili dua puluh kata sebelumnya, yakni dari lafadaz الْمُسْلِمِينَ sampai lafadaz وَالذَّاكِرَاتِ jika kata kata ini tidak di singkat dengan menggunakan dhamir (kata ganti)-dalam hal ini dhamir “hum”- maka kita akan membaca ulang lagi lafadz-lafadz ayat yang berada sebelum dhamir “hum”. Tetapi, jika kita menyingkat lafadz yang dua puluh itu dengan dhamir (sesuai kaidahnya) maka ayat tersebut akan kelihatan lebih interes, enak dibaca dan tetap natural, karna penyingkatan lafadz itu dengan dhamir tidak akan merubah makana atau kemurnian ayat itu. 
                 Adapun dhamir memiliki kaidah kebahasaan tersendiri yang disimpulkan oleh para ahli bahasa dari Al-Qur’an al-Karim, sumber sumber asli bahasa arab, hadits nabawi dan dari perkataan orang arab yang bisa dijadikan hujjah, bak itu berupa puisi (nazam), atau prosa (nasar). Salah satu ulama’ yang menaruh perhatian besar dalam hal ini adalah abu bahar muhammad bin hasyim al anbari (w.328 H) yang telah menyusun kitab 12 jilid yang spesifikasi membahas tentang damir damir yang ada dalam al qur’an.
                 Dhamir mempunyai kata yang digantikan yang disebut isim zhahir (yang jelas) marji’ (tempat kembali) nya. Secara garis besar damir dibagi menjadi tiga antara lain:
1.      Orang pertama, menggunakan dhamir mutakallim.
2.      Orang kedua, menggunakan dhamir mukhatab.
3.      Orang ketiga, menggunakan dhamir ghaib.
Marji’ (tempat kembali) untuk dhamir mutakallim dan mukhatab sudah jelas diketahui maksudnya melalui keadaan yang melingkupinya. Sedangkan dhamir ghaib memerlukan ketentuan tersendiri untuk mengidentifikasikannya yang biasa disebut sebelumnya. Ibn malik dalam kitabnya at tashil mengatakan: “kaidah menetapkan, marji’ (tempat kembali) bagi dhamir ghaib harus didahulukan. Marji’ adalah lafadz yang terdekat dengannya kecuali bila ada dalil yang menunjukkan lain”.
a.      Marji`
Dalam kaidah dhamir, dikenal istilah marji’ yakni tempat kembalinya  dhamir yang  di gunakan untuk menggantikan kata kata sebelumnya maupun sesudahnya. Ada beberapa tempat disebutnya marji’  dhamir dalam Al Qur’an antara lain:
1)      Kadang marji’ damir disebutkan sesudah dhamir.
فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى
Maka Musa merasa takut dalam hatinya. (QS. Thaha:67)
Marji’ damir yakni lafadaz musa disebutkan sesudah damir (kata gantinya) yakni hi” pada lafadz nafsihi”.

2)      Marji’ dari damir terkadang tidak dijelaskan secara eksplisit (jelas), tapi difahami dari konteks kalimat.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ 
*  Semua yang ada di bumi itu akan binasa. *  Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(QS. Al-Rahman:26-27)
Dalam contoh ayat diatas marji’ dari dhamir ha’ pada lafadz alaiha tidak di sebutkan dengan jelas, tetapi bisa kita melihat dari konteks ayat tersebut. Maksud lafadz عَلَيْهَا adalah على الارض, jadi dhamir ha marji’nya ardhi.

3)      Marji’ kadang kembali pada makna bukan pada lafal

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari air mani, Kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah. (QS. Fathir: 11)

Damir ha dalam ayat tersebut tidak kembali kepada muammar sebelumnya, tetapi pada kata muammar yang lain.
4)      Kadang menggunakan damir jama’ padahal damirnya mutsanna

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ
Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan Keputusan mengenai tanaman, Karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. dan adalah kami menyaksikan Keputusan yang diberikan oleh mereka itu, (QS. Al-Anbiya`: 78)

                Dari ayat di atas, dapat dilihat bahwa Marji’ damir hum pada ayat tersebut kembali kepada daud dan sulaiman, menggunakan dhamir jama’ (hum) tapi marji’nya mutsanna (daud dan sulaiman)
Kaidah umum dalam hal ini tetaplah berlaku yakni marji’ suatu dhamir biasanya terletak sebelum dhamir tersebut. Contohnya dalam surat hud ayat 42:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
42.  Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir."
Marji’ dhamir hu pada lafadz ibnahu dalam ayat diatas sudah jelas yaitu nuh yang terletak sebelumnya.

by : adib

 source :  Manna’ khalil al qattan, studi ilmu ilmu Al qur’an (bogor, pustaka litera antar nusa, 2007)
               Muhammad chirzin, al qur’an dan ulumul qur’an (yogyakarta, dana bhakti prima yasa, 2003)

2 comments:

terimakasih ^_^